Blog: dari Curhat Pribadi hingga Bisnis Online

Posted on Desember 10, 2009

0


Oleh Sabjan Badio

Apa yang dapat Anda raih dengan blog? Pertanyaan ini tentu saja sangat menggelitik melihat aktivitas para blogger yang kian hari semakin meningkat. Pertanyaan ini bagi sebagian orang pun berubah menjadi kekhawatiran, mulai pemborosan waktu hingga pemborosan uang. Maka, tidak heran beberapa orang terkenal di tanah air di tanah air sempat melecehkan aktivitas blogger, sebut saja di antaranya Ahmad Dhani dan KRMT Roy Suryo Notodiprojo. Pandangan sinis Ahmad Dhani dan Roy Suryo tersebut tak pelak menimbulkan kemarahan para blogger. Tak heran jika kemudian keduanya diserang balik oleh begitu banyak tulisan dan gambar digital.

Benarkah nge-blog itu pekerjaan sia-sia? Untuk menjawabnya, kita tentu harus tahu apa sebenarnya blog dan apa pula yang dapat kita raih darinya.

Lahirnya Citizen Journalism

Tahun 2000 silam, Oh Yeon Ho merintis situs OhmyNews (www.ohmynews.com). Situs ini diisi oleh 80% warga kebanyakan, 20% oleh professional. Tahun 2002, situs ini telah berkontribusi atas kemenangan Rooh Mo Hyun pada pemilihan presiden. Kemudian, tahun 2004, OhmyNews mencatat omset sebesar US$ 400.000. Sekitar 66% pendapatan itu mereka himpun dari para pengiklan. Dengan omset sebesar itu, OhmyNews mampu membayar warga yang berkontribusi melalui tulisan-tulisannya. Sukses dengan OhmyNews Korea, Oh Yeon Ho kemudian mendirikan OhmyNews Internasional (english.ohmynews.com) yang beritanya 100% dari warga kebanyakan. Gebrakan ini juga diikuti oleh Wikinews (Situs web Yayasan Wikimedia. Perbedaannya, artikel Wikinews tidak harus disunting lagi oleh editor-editor internal).

Prinsip yang menjadikan warga kebanyakan, pengunjung, pembaca, masyarakat luas, atau masyarakat awan sebagai jurnalis (reporter hingga redaktur) ini dikenal dengan istilah citizen journalism. Melambungnya nama situs-situs yang berprinsip citizen tersebut, akhirnya menggerakan praktisi jurnalisme di Indonesia untuk melakukan hal serupa. Saat ini tercatat beberapa situs yang melakukan hal tersebut, di antaranya www.wikimu.com, www.panyingkol.com, dan www.kabarindonesia.com. Bahkan, belakangan ini, media televisi dan media cetak pun ikut ambil bagian di ranah citizen journalism ini. Untuk media televisi, kita mengenal I Witness, program citizen journalism yang dikelolah oleh Metro TV. Selanjutnya, kita juga mengenal program Narsis.TV yang dikelolah oleh Global Tv. Media cetak nasional pun tak mau ketinggalan, sebut saja kompas dan tempo, keduanya telah menyediakan space citizen di porta (situs)-lnya.

Bukankah berita-berita yang berasal dari warga biasa itu tidak dapat dipertanggungjawabkan? Bisa jadi itu benar, di sinilah perlu kecerdasan para pembaca atau penonton untuk memilih dan memiliahnya. Akan tetapi, perlu diingat, media citizen ini, pernah menunjukkan taringnya pada beberapa peristiwa bencana di Indonesia.

Selama ini, saking besarnya bencana yang terjadi, infrastruktur dan pusat-puat layanan publik pun ikut luluh-lantak. Maka, tidak heran kalau media pun ikut tertatih dalam meliput bencana-bencana tersebut. Untuk mengatasi hal ini, beberapa perusahaan mengadobsi sistem citizen journalism. Beberapa saat setelah bencana terjadi, media massa memberi kesempatan kepada para korban atau masyarkat yang berada dan mengetahui peristiwa tersebut untuk memberitakannya baik secara langsung maupun melalui para jurnalis resminya. Maka, tidak heran kalau kita menyaksikan video-video rekaman detik-detik terakhir terjadinya bencana justru datang dari tangan-tangan amatir.

Saya sendiri sempat menyaksikan bagaimana peran citizen journalism. Beberapa saat pascagempa bumi di Bantul, saya menyaksikan beberapa radio melakukan siaran langsung terhadap laporan atau pertanyaan warga. Tidak tanggung-tanggung, direktur RRI pun pernah menjadi pemandu acara tersebut. Melalui acara itu, warga yang berada di tempat kejadian dapat melaporkan kondisi di sekitarnya. Sebaliknya, warga yang berada di tempat lain bisa bertanya langsung tentang informasi yang diinginkannya. Oleh karena komunikasinya disiarkan secara langsung, masyarakat pun dapat merspons informasi tersebut dengan cepat. Kehadiran media yang menganut citizen journalism ini tak pelak telah membantu kerja media massa mainstream yang untuk kejadian-kejadian seperi bencana ini sangat terbatas kemampuannya.

Lahirnya Self Publishing

Pernah mendengar nama Dan Poynter? Dia adalah bapak self publishing dunia. Banyak pihak beranggapan cerita tentang self publishing berawal dari kiprah Dan Poynter dalam menerbitkan buku yang ditulisnya sendiri. Penulisan itu diawali karena Dan Poynter tidak menemukan buku petunjuk tentang olahraga yang sedang digelutinya. Pantastis, buku tersebut kemudian terjual ratusan ribu eksemplar.

Lalu, apa sebenarnya self publishing itu? Self publishing kuncinya sederhana, ada penulis dan ada penerbit. Anda berperan pada kedua bidang tersebut, buku yang anda tulis, diedit sendiri, dilayout sendiri, dibuatkan kover sendiri, kemudian dicetak sendiri, setelah itu dipasarkan sendiri. Perlu diingat, makna kata sendiri ini tidak berarti satu orang. Pada proses penerbitan, editing, layout, desain, hingga percetakan dan pemasaran, tidak berarti harus dikerjakan oleh anda sendiri. Anda dapat meminta bantuan untuk hal-hal tertentu.

Poin yang perlu dicatat dalam pengertian self publishing adalah hubungannya dengan small publisher. Jika anda menerima naskah dari orang lain kemudian menerbitkannya dengan biaya dan manajemen yang pas-pasan, ini dinamakan small publisher (bukan self publishing/er). Self publising hakikatnya menerbitkan buku yang ditulis sendiri.

Blog: Perkawinan Citizen Journalism dan Self Publishing

Prinsip citizen journalism dan self publishing ini kemudian diadobsi oleh media digial bernama blog. Berkenaan dengan prinsipnya sebagai media personal, blog mau tidak mau merupakan media yang materinya ditulis sendiri oleh para blogger. Kemudian, tulisan tersebut dipublikasikan sendiri. Proses ini terlihat gampang karena tidak memerlukan modal besar, kecuali komputer dan koneksi ke internet.

Walau pun begitu, perlu diingat, saya tidak bermaksud menegaskan bahwa cikal-bakal blog adalah citizen journalism dan self publishing. Melalui tulisan ini saya menyimpulkan bahwa prinsip yang ada pada blog sama dengan gabungan prinsip citizen jouranalism dan self publishing. Oleh karena sifatnya yang citizen dan self tersebut, maka para blogger menjadi penanggung jawab penuh dan tunggal semua materi dan hal-hal lain yang dilakukannya di atau pada blog yang dikelolanya.

Saat ini, begitu banyak situs besar yang memberi kesempatan kepada pengguna internet untuk membuat blog. Bahkan, situs besar seprti multiply.com, wordpress.com, blogspot.com, blogdetik.com, dan beberapa situs lain mengkhususkan diri pada penyedia layanan subdomain dan hosting untuk blog. Tidak tanggung-tanggung, semua layanan itu diberikan secara gratis.

Dari Curhat Pribadi Hingga Bisnis Online

Sekarang sampailah kita pada materi blog. Apa yang harus kita sampaikan untuk membantah pernyataan Ahmad Dhani dan Roy Suryo yang sinis terhadap para blogger? Banyak. Oleh karena sifat blog yang citizen dan self publishing, para pemilik blog dapat menulis apa pun dan tentang apa pun. Bahkan berbagai masalah pribadi pun dapat dicurahkan di blog. Apa yang kita tulis ini kemudian oleh para sesama blogger atau para pengunjung biasa direspons. Berbagai respons tersebut tentu saja menjadi masukan bagi blogger.

Seorang blogger juga dapat menuliskan materi tentang aktivitas atau keahliannya di blog. Saya mengenal seorang managing editor yang berselancar di internet untuk mencari naskah. Kebetulan dia singgah pada sebuah blog yang fokus membahas sebuah masalah, yaitu masalah pendidikan. Managing editor tersebut tertarik dengan tulisan tersebut dan berkeinginan untuk menerbitkannya.

Seorang teman lain bahkan mendapat menghargaan dari sebuah lembaga atas konsentrasi dan kekritisannya membahas sebuah tema. Saya sendiri, pernah ikut kompetisi menulis di blog dan berhasil mendapatkan hadiah software original seharga 1,5 juta rupiah (harga yang jauh lebih tinggi dari harga tulisan di media massa). Bahkan, seorang teman lain sampai menghasilkan 2-3 juta atas penghargaan yang diberikan terhadap blognya.

Beberapa lama mengamati blog, saya sering menemukan blogger yang menggunakan blog sebagai media promosi. Kita tahu, untuk menyewa domain dan hosting memerlukan dana yang tidak bisa dibilang sedikit, itu pun dilakukan secara periodik. Blog, karena sifatnya yang gratis, banyak menjadi pelarian para pelaku bisnis (khususnya bisnis-bisnis menengah ke bawah) untuk berpromosi atau sekadar dipergunakan sebagai alamat maya.

Intinya, sangat banyak yang dapat dilakukan dengan blog. Bahkan, banyak pihak yang menjadikan blog sebagai rujukannya dalam menulis karya ilmiah. Untuk itu, tidak ada alasan untuk mengatakan bahwa blogger sebagai orang-orang yang tidak punya pekerjaan. Walaupun begitu ada satu syarat yang sebaiknya dipenuhi oleh para blogger, yaitu kefokusan pembahasan. Sebaiknya blog khusus membahas isue-isue tertentu (pengecualian untuk blog yang hanya dijadikan sebagai catatan harian semata).

Jadi, tunggu apa lagi? Ayo, rame-rame ngeblog!***

Iklan
Ditandai: ,
Posted in: Seputar TIK