Sudahkah Guru Melek Teknologi?

Posted on Desember 15, 2009

0


Sabjan Badio

Coba lihat keempat gambar tersebut, mana yang paling menarik menurut Anda? Semua orang mungkin berpendapat berbeda. Ada yang berharap semuanya akan dilakukan anaknya, ada yang menggap mencuci motor (mebantu orang tua, zaman dulu ya membantu di sawah), ada yang berharap anaknya belajar, ada yang berharap anaknya rajin menabung, ada yang berharap anaknya pintar komputer.

Semuanya tidak salah, yang penting itu harapan Anda. Sebuah harapan berperan strategis dalam sebuah keberhasilan sebab di antara harapan adalah doa. Akan tetapi, harapan itu menurut saya nomor dua, yang paling penting adalah bagaimana Anda merealisasikannya. Jika Anda ingin anak, adik, atau ponakan Anda rajin membaca, Anda harus menghadirikan kondisi dengan kebiasaan membaca, menyediakan buku yang variatif, dan sering mengajaknya belanja buku atau berkunjung ke perpustakaan. Kalau harapan Anda berhenti di kepala saja, itu namanya mimpi atau menghayal, menghayal anak, adik, ponakan Anda rajin membaca. Jadi, yang paling penting adalah contoh nyata terutama dari Anda sendiri.

OK, mungkin itu terlalu jauh, kita sendiri yang sekarang sudah remaja, bahkan dewasa, apakah kita melakukan hal-hal yang disyaratkan untuk mencapai sesuatu yang  kita impikan? Coba jawab dengan jujur. OK, tema ini masih terlalu luas, kita kerucutkan saja ke masalah teknologi di mata guru. Mengapa saya pilih ini? Karena saya sangat akrab dengan dunia pendidikan.

Teknologi dan Guru

Beberapa waktu lalu, diadakan “Diklat Penulisan Puisi Berbasis IT”. Diklat tersebut dilakukan di Kabupaten Bantul. Acara itu menghadirkan ahli sastra, pembaca sastra, dan para guru. Di bayangan saya, para guru diberi pelatihan tentang bagaimana mengajarkan puisi berbasis IT. Ternyata tidak, saat itu mereka hanya dilatih untuk menulis puisi, dilatih membaca puisi, kemudian ditugaskan menulis puisi. Puisi-puisi yang dibuat diminta dikirimkan melalui e-mail untuk diterbitkan dalam bentuk PDF (portable document format).

Melihat itu, mungkin sebagai orang akan tertawa, di mana IT-nya? Apakah aktivitas mengirim e-mail dan penerbitan buku kumpulan puisi dalam bentuk PDF itu sudah tergolong penulisan puisi berbasis IT? Saya yakin Anda pun akan tertawa mendengarnya, sesederhana itukah IT di mata para guru? Tetapi tunggu dulu, bisa jadi itu benar, ternyata para guru yang hadir dalam acara tersebut banyak yang tidak mempunyai account e-mail, tidak mengerti apa itu PDF. Ini masalah besar, sampai-sampai instrukturnya menyindir para guru untuk belajar pada para siswanya. Kenyataan ini tentu tidak mungkin untuk melatih para guru untuk langsung menggunakan peralatan yang lebih canggih lagi, misalnya video dan microphone untuk pembelajaran dengan sistem teleconference seperti yang banyak digagas kelompok-kelompok pemerhati pendidikan.

Itu soal pelatihan, kemudian, coba kita tengok lebih ke dalam lagi. Saksikan sekolah-sekolah tempat para guru itu berdiam. Ternyata, sebagian besar di antaranya hanya memiliki satu laptop dan satu LCD proyektor. Lebih tragis lagi, hanya satu dua orang guru saja yang memanfaatkan kedua peralatan tersebut, yang lain ke mana? Masih bertahan dengan kapur tulis dan spidol.

Memang sebagian orang berdalih bahwa penggunakan alat-alat elektronik itu akan menyita perhatian siswa sehingga teralih dari pembelajaran. Ini yang perlu disadari, bahwa keberadaan benda-benda elektronik itu, di sisi lain justru memokuskan perhatian para siswa. Siswa yang biasanya suka lirik-lirik, melongok-longkok, mengantuk, langganan izin ke belakang, akan duduk diam dan fokus memperhatikan media yang kita tampilkan. Selain itu, berbagai grafik, gambar, tulisan, yang kita sajikan jika “diurus” secara profesional akan menjadi contoh hidup dan nyata bagi proses pembelajaran. Dengan media itu, kita bisa menghadirkan rekaman pembacaan puisi, bisa menyajikan rekaman wawancara, bisa menyajikan berbagai contoh lain.

Menyaksikan keadaan para guru di lapangan, bukankah akan menciptakan kemubaziran atas program-program pemerintah untuk mengadakan berbagai peralatan yang berhubungan dengan teknologi untuk mendukung pembelajaran di sekolah? Ini pertanyaan sekaligus saran untuk pengambil kebijakan program  pengadaan internet, komputer dan laptop, proyektor, dan sebagainya, bahwa rencana-rencana tersebut harus diintegrasikan dengan program pendidikan dan latihan untuk para guru. Sehingga, nantinya, keberadaan barang-barang tersebut menjadi efektif dan berdaya guna maksimal.

Para guru sendiri hendaknya tidak pasif menunggu giliran mendapat jatah diklat dari pemerintah. Seorang guru harus aktif belajar, jangan sampai di saat para siswanya sudah belajar bagaimana mengembangkan blog, bagaimana membuat situs  sendiri, bagaimana berkompetisi, para guru justru masih berkutat pada pertanyaa: Apa itu blog dan bagaimana membuatnya?***

Iklan
Ditandai: ,
Posted in: Seputar TIK