Iptek vs Imtak di Perguruan Tinggi

Posted on Januari 24, 2010

0


Sabjan Badio

Ingat dengan B.J. Habibie? Tentu saja, siapa yang tidak kenal dengan ilmuan jenius yang sempat menjadi Wapres Indonesia dan Presiden Indonesia itu? Salah satu pernyataannya yang terkenal adalah tentang iptek dan imtak: “Jika saya ditanya lebih memilih iptek atau imtak, tak satu detik pun terlewat saya akan langsung menjawab imtak,” ujarnya seperti diberitakan Detiknews (28/11/2008). Habibie mengibaratkan iptek (ilmu pengetahuand an teknologi) dan imtak (iman dan takwa) dengan sayap pesawat terbang, harus imbang.

Pernyataan Habibie itu sebenarnya perlu dicermati dan ditelaah lebih jauh, apalagi jika dihubungkan dengan kurikulum di perguruan tinggi. Seingat saya, porsi pengetahuan agama dalam kurikulum pendidikan tinggi non-keagamaan, hanya dua SKS. Ini tentu saja tidak imbang dengan kurikulum keilmuan yang mencapai 140-an SKS. Dapat dibayangkan, apa yang didapat dari kegiatan pembelajaran selama dua SKS dalam satu semester itu? Saya yakin pembelajaran itu tidak akan sampai pada tataran praktis.

Lalu, apa yang harus dilakukan? Apakah kurikulum pendidikan tinggi harus dirombak secara keseluruhan? Tentu saja tidak. Masalah imtak adalah masalah yang khas, unik, penyelesaiannya tidak bisa disama-ratakan untuk semua karakter perguruan tinggi. Yang perlu dilakukan adalah penelaahan secara cerdas oleh tiap-tiap perguruan tinggi untuk kemudian menentukan tindakan tepat yang dapat diterapkan di tiap-tiap perguruan tinggi tersebut.

Ada banyak alternatif yang dapat diterapkan di perguruan tinggi, sebagian perguruan tinggi bahkan telah menerapkannya secara maksimal, di antaranya melalui unit kegiatan mahasiswa, pesantren kilat, atau pembudayaan nilai-nilai imtak di lingkungan kampus. Pertama, unit kegiatan mahasiswa. Melalui kegiatan ini, aktivitas keagamaan yang dilakukan dapat dikelolah secara otonom oleh mahasiswa. Tentu saja melalui pembimbingan khusus oleh wakil dari peguruan tinggi. Pembimbing unit kegiatan mahasiswa ini tujuannya agar unit kegiatan mahasiswa itu tidak terkegelincir pada kegiatan-kegiatan yang salah arah. Melalui unit kegiatan mahasiswa ini, harapannya akan tersebar dakwah keagamaan yang kemudian menularkan penerapaan keimanan dan ketakawaan dalam kehidupan kampus, khususnya mahasiswa anggota unit kegiatan mahasiswa yang bersangkutan.

Kedua, melalui pesantren kilat. Pesantren kilat dapat dilakukan atas inisiatif unit kegiatan mahasiswa atau lembaga internal kampus lainnya. Kegiatan ini dapat dilakukan pada momen tertentu, misalnya saat liburan semester.

Ketiga, melalui pembudayaan nilai-nilai keagamaan di lingkungan kampus. Hal ini diterapkan dengan cara, misalnya (1) wajib mengucapkan salam saat bertemu dosen, pun sebaliknya, dosen harus mengucapkan salam sebelum memulai pelajaran, (2) tidak ada kegiatan perkuliahan yang bertepatan dengan waktu salat, (3) penyediaan fasilitas ibadah yang lengkap, harus ada masjid, musolah, mukena, dan peralatan ibadah lainnya.

Semua itu, tentu saja bertujuan untuk menciptakan manusia Indonesia yang cerdas dan bertakwa berdasarkan UUD 1945 yang berbunyi: Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-undang (Pasal 31 Ayat 3) dan Pemerintah memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan persatuan bangsa untuk kemajuan peradaban serta kesejahteraan umat manusia (Pasal 31 Ayat 5).

Referensi:

  1. UUD 1945 (Amandemen, Perubahan Keempat)
  2. www.detiknews.com, “Habibie Nilai Kesalahan Indonesia Terletak Pada Modelnya”, Diunduh Tanggal 23 Januari 2009 Pukul 09.00 WIB.
Iklan
Ditandai: ,
Posted in: Seputar TIK